Menjaga Beku
Entah sampai kapan rasa ini terus dan tetap tersimpan hingga tak satupun yang dapat menggantinya. Saat semuanya telah berlalu, ia pun tetap di sini, tetap dapat ku rasakan ia merangkul beku ini, menjaganya agar tak mencair oleh rayuan waktu dan logika. Hingga tak tersadar olehku, sebenarnya dia yang jauh di sana, sama sekali tak melakukannya. Ia hanya diam, tak peduli tetap membeku atau ‘kan mencair. Yang ia tahu, kisah di masa itu hanya sebuah prolog dalam perjalanan hidup kami, yang tak akan bertepi, terus berjalan walau bagaimanapun keadaannya, terseok-seok pun tetap tak terhenti, semua harus tetap berjalan, hingga di suatu masa, epilog itu akan tercipta, epilog yang menjadi tujuan kami. Dan bagiku, epilog itu yang akan menentukan apakah ia akan mencair oleh beku ku? Atau ia akan menyuruhku mencair, dengan membiarkan waktu dan logika ini menguasaiku?. Dan ia, akan terus berjalan mencari rumah terakhirnya, dengan membawa kebekuanku, namun tanpa meninggalkan rasa yang boleh ‘tuk ku miliki. Ia akan tenang di rumah terakhirnya, dan walaupun itu, bukan aku.
Aku masih punya hati. Aku bukan seorang pembajak komitmen. Mengobral pun aku tak mampu. Kamu, ya, k-a-m-u, boleh merasakan dan menyembuhkan luka ini. Tapi hanya dengan ‘antiseptik’mu, bukan dengan yang lain. Karena kau tak akan bisa membiusku dan membuang kebekuan ini. Keras dan beku. Tetap akan begitu, hingga hanya dia yang memegang kuncinya, hanya dia yang boleh membiusku. Kamu hanya akan dapat berdiri menanti dari luar saja. Atau jika aku sedang sangat merasa kasihan olehmu, dan gombalan malaikatku mampu mencairkan –satu tetes- dari beku itu, aku akan memperbolehkanmu melangkah lebih dekat, hingga kamu dapat 'melihat'ku dengan jelas, namun tetap akan ada pagar amat tinggi yang menjaga agar kau tak lancang masuk dengan seenaknya. Stop, cukup sampai di sini, aku tak mau lagi memberi dispensasi dan menutup rapat-rapat diriku dari semua rayuan yang datang. Biarlah aku di sini menantinya, karena aku tak akan mencarinya, tapi ia yang akan menemukanku. Dan kamu, bebas memilih hidupmu. Bukan ku tak peduli. Namun, alasan yang akan kau dapatkan dariku hanyalah ‘Jika ia telah datang, ku yakin kamu bukanlah orang yang berhak menetap selamanya di sini, aku pun yakin pada masanya nanti, saat takdir membawanya untukku lagi, aku untuk dia, itu mutlak bagiku’. Maka aku harus memberimu kesempatan untuk menemukan kartu matimu sendiri.
Otakku hanya berkata “Dia mutlak untukku!”. Walaupun begitu, aku memang hanya bisa menghadirkannya lewat ekspektasi berlebihanku. Apa dayaku?, mengharap takdir mungkin bisa jadi jawaban sementaraku, daripada aku harus benar-benar menjadi 'hantu-yang-menghantui-pikirannya-dengan-bayangku' agar dia menyadari hadirku?. Aku tak peduli dia di sana akan mendengar jeritanku ini atau tidak. Aku hanya ingin berbicara dengan sorot matanya lewat tulisanku. Apapun itu, aku tak peduli, sungguh tak peduli dengan semuanya, aku hanya inginkan dia. Dia tetaplah dia, yang akan kukenang seperti pertama kali kumelihatnya, dia yang membuyarkan lamunanku dengan kalimat "Hei, kamu sudah hampir lima menit melihatku terus!" nya.



wah, asik tuh. jadi punya proses kreatif dlm menulis tuh. ga banyak lho orang yg bisa punya proses kreatif dlm menulis
ReplyDelete@Ragil : hehe.. ya itung2 sambil blajar.. sekali mendayung, dua-tiga onde2 terlampaui..hehe :)
ReplyDeletesori ya aku dulu ga sempet kasih emailnya, jd ga bs liat blogmu yg lama,, tp kamu bikin blog baru jg ya?