February 17, 2009

P l u r a l i s m ?

Well.. fotonya emang bener2 absurd, maklum sajalah., tapi, kalau saja kita mau melihat lebih dalam sosok di foto itu, bukan, kita bukan sedang mencari 5 perbedaan di tabloid BOBO halaman 17, bukan juga nyari penampakan ukauka, tapi... Just FYI, dia, oke, ehm, beliau itu..
:: Dr. Andreas D'Souza, seorang India beragama Kristen, pendiri dan pemrakarsa Henry Martyn Institute : International Center for Research, Interfaith Relations and Reconciliation.   
.
Iya, aku tau, aku sebelum aku ikut seminar beliau, (Sesi I : "Moslem in India and The Impact in Their Community", Sesi II : "Pluralism") aku sama sekali belum ngeh, siapa sihh bapak iniii? Aku bahkan mau ikut ke seminar ini karena ada jeda lumayan lama sebelum kuliah yang kedua, plus emang dosen ku meng-sunnah muakkad-kan untuk dateng ke seminar ini, jiahh..

Tapi abis aku googling, baca forum2 serius (alah), plus blog-walking, aku baru tau, betapa tenarnya bapak ini. Intinya beliau seorang, yak, Theolog, yang biasanya diasumsikan nyeleneh ato whatever lah, tapi dia, oke, Beliau, lebih mendedikasikan kepiawaiannya dalam Theologi untuk menciptakan kedamaian antaruma
t beragama (Especially Islam, Kristen, Hindu). 
.
Balik lagi ke masa2 hadirnya aku di seminar tadi, seminarnya Berbahasa Inggris, Well, kita semua para mahasiswa semester 2 lega karena si, oke, sang Bapak bahasa Inggrisnya ga kumur2, justru masih jelas benget aksen plus logat khas aca-aca nya. hehe
.


Dari 2 sesi presentasi nya, intinya yang Beliau bahas :
1. Di India, umat muslim biasanya berasal dari kasta yang paling rendah, iliterasi, tempat tinggal kumuh, miskin, hak2 dikekang. Umat Hindu, bernasib sebaliknya. Walaupun ada juga umat Islam yang bermukim di kota besar dan sukses, tapi cuma sebagian kecil. Mau contoh ? Iya, I see, Sahru / Shahroo Khan. haha

2. Muslim India 'terlanjur' di cap negatif. Walaupun Islam adalah agama terbanyak no.2 di India, namun tetap minoritas karena hanya 20% dari penduduk India. Islam di India yang terbagi menjadi Sunni dan Syi'ah, yang mana 2 aliran ini sendiri sering mengalami perbedaan yang diperdebatkan, hal ini membuat Muslim India dianggap tidak dapat menjaga persatuan. Ditambah isu terorisme, yang lagi2 'terlanjur' melekat ada umat Islam dunia. Plus mereka, orang India selain Muslim, hanya melihat konsep Poligami secara umum, tidak secara keseluruhan dan tidak menekankan pada nilai keadilan-nya. Selain itu, jilbab ataupun cadar masih dianggap tabu, dan membuat wanita muslim India dibedakan hak nya hanya karena alasan jilbab. Mereka pun menilai umat muslim India yang punya tradisi memiliki banyak anak merupakan sebuah ancaman.

::::::::Sekali lagi, ini masih menurut Beliau, bukan Saya::::::::

3. Untuk menghindari diskriminasi oleh dan untuk agama manapun, Beliau membuat sebuah 'Formula' yang terlihat klise, tapi tetap berbeda dan berbobot :
.... A. Kita harus dapat menerima perbedaan (dalam bentuk apapun, terutama agama)
.... B. Kita harus dapat menghargai perbedaan itu 
.... C. Melakukan i
nterpenetrary saling 'menembus' namun tetap menghargai batasan yang telah diatur dalam tia agama, dan bahkan dari tiap manusia itu sendiri
.... D. Dengan 'proyek' Doing-Theology yang diterapkan secara sederhana : 

"Jangan pernah bermaksud mengubah (agama) seseorang, namun tetaplah menjadi 'panutan' yang membuat mereka terpengaruh pada kita, hingga mereka dapat melihat kita, seseorang yang beragama berbeda dengan mereka, namun kita dapat saling merangkul dan menghargai siapapun"
.
Well. aku, harus aku akui, aku masih terbawa kebiasaanku : selalu melihat dulu background orang yang berbicara dengan ku. Dan yang paling sering aku amati plus cari tau paling pertama biasanya.. "Yang ngomong denganku ini agamanya apa sihhh?"
Islam, mengajarkan jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah isi yang dibicarakannya. Tapi salahkah kalau kebiasaanku itu semata2 'Demi menjaga pikiranku agar tetap percaya dengan apa yang aku percayai selama ini, dan hanya sebagai antisipasi terhadap hal2 yang masih kontroversi, supaya aku bisa mempunyai cara pandang tersendiri' ??
Kalaupun aku udah tau mereka yang berbicara dengan ku ini, adalah seorang yang berbeda agamanya, aku akan tetap mendengarkannya, aku justru suka mengetahui pandangan dari seseorang yan beda keyakinan denganku, tentang apa yang sedang kami bahas.
.
Pluralism?
Hmm... Well, aku memang sangat2 salut plus bangga bisa mendengarkan seminar dari seseorang-yang-ternyata-terkenal ini,,..
Tapi, kalau kita bicara tentang pluralisme (khususnya agama), aku justru merasa agak nonsense aja gitu, bicara panjang lebar tentang usaha perdamaian atas nama pluralisme lah, ato apalah, tapi di Gaza sana, mungkin saja saudara muslim kita, seorang anak kecil yang belum mengerti apa2, justru menjadi korban dari konflik pluralisme agama, dengan polosnya dia bertanya "Di mana ayah ibuku? Di mana sekolahku? Mengapa rumahku hancur?"
.
Well. . . Speechless



0 feed back(s):

Post a Comment